Indonesia telah kehilangan seorang bapak pluralismenya. Gus Dur semasa
hidup dikenal sebagai orang terdepan membela pluralisme.
Baginya hal ini sebuah keniscayaan ketika berhadapan dengan agama,
kebudayaan dan demokrasi. Tak ada demokrasi tanpa pluralisme. N o n s e
n s. Artinya memang tiap-tiap kelompok agama, budaya, atau apapun
latarnya harus bisa saling menghargai di tengah perbedaan. Gagasan ini
sejalan dengan jargon yang digagas para pendiri bangsa ini “Bhineka
Tunggal Ika”, berbeda-beda tapi satu, atau dalam kata Obama: “Unity in
diversitity!”.